Hampir saja - Bulan dan Bintang #3
"Masih nunggu angkot, mba?" Gua berhenti didepan tempat dia nunggu angkot, dan mencoba buka percakapan kembali dengan Bulan.
"Eh iya nih kak, angkotnya gak dateng-dateng." Bulan memanyunkan sedikit bibirnya, mengisyaratkan kalo dia mulai bete nunggu.
"Emangnya gak bosen duduk disini terus? mending sama kakak pulangnya, mumpung searah juga kan. Hahaha." Gua coba sedikit bercandain Bulan, dan... emang niatnya hanya bercanda.
Disaat itu, gambaran lebih jelas tentang situasi sore hari yang mendung itu, kampus sudah terlihat cukup sepi, begitu pula kondisi jalan raya depan kampus, yang tak banyak kendaraan lalu lalang. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, dan kebanyakan kendaraan pribadi. Angkutan umum sulit sekali memang keberadaannya, terkadang banyak yang melintas di depan kampus, kadang juga hanya satu atau dua yang melintas, dan itu hanya diwaktu-waktu tertentu saja mereka beroperasi. Dengan semakin berkembangnya zaman, beriringan juga dengan berkembangnya teknologi, hingga berimbas pada angkutan umum yang berbasis online. Lebih mudah dan praktis, cepat dan nyaman, dibandingkan angkutan umum konvensional. Itulah sebabnya kenapa angkutan umum sekarang udah jarang banget.
------
balik lagi ke obrolan gua sama Bulan.
"Emang gapapa kalo aku pulang bareng kakak?"
Whattt? gak salah denger nih gua? Bulan nanya hal itu ke gua?
"Eng..gak si sebenernya. tapi..."
"Tapi kenapa kak?"
"Tapi..." Sumpah, gua gugup banget saat itu, kaget juga.
"Tapi apa kak?"
Disaat Bulan nunggu jawaban dari gua, yang padahal tinggal gua jawab aja,
Aku tuh kaget kamu ngomong gitu, Bulan!. Aku seneng mau pulang bareng kamuuuuuu:)
Dan disaat gua masih mencoba untuk ngelawan rasa gugup gua dan coba jawab pertanyaan Bulan, yang sebenernya belum tahu juga mau jawab apa. Disaat itu, tiba tiba...
"(Tin tin tin) Ayo neng, Angkot angkot neng, ayo neng. Langsung naek langsung jalan neng."
Datanglah sebuah angkot perusak momentum indah sore itu.
"Eh kak, angkot aku udah dateng. Aku duluan ya. Bye, kak Bintang:)." Bulan melempar senyuman andalannya itu.
"I..iyaa, Bulan, bye. Hati-hati ya." Berat hati aku menjawab kalimat berpisah untuk sore itu.
hilang sudah kesempatan untuk pulang bareng bersama Bulan. Padahal gua sendiri juga belum tahu gimana perasaan pasti ke Bulan. Tapi, kondisi tadi, ada hal yang buat gua gugup, kaget juga, saat Bulan coba menerima ajakan gua untuk pulang bareng, yang padahal sebelumnya hanya candaan semata, untuk mencairkan suasana aja. Gak ada niatan sedikitpun untuk ajak Bulan pulang bareng. Eh, ada sedikit deh. Hehehehe
------
sekian dulu, nanti gua lanjutin lagi, kalo ada waktu. dan mood hehehe.
tapi sebenernya pengen banget konsisten nulis gini.
oke sekian deh ya. see you on the next part of Bulan dan Bintang Story.
"Eh iya nih kak, angkotnya gak dateng-dateng." Bulan memanyunkan sedikit bibirnya, mengisyaratkan kalo dia mulai bete nunggu.
"Emangnya gak bosen duduk disini terus? mending sama kakak pulangnya, mumpung searah juga kan. Hahaha." Gua coba sedikit bercandain Bulan, dan... emang niatnya hanya bercanda.
Disaat itu, gambaran lebih jelas tentang situasi sore hari yang mendung itu, kampus sudah terlihat cukup sepi, begitu pula kondisi jalan raya depan kampus, yang tak banyak kendaraan lalu lalang. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, dan kebanyakan kendaraan pribadi. Angkutan umum sulit sekali memang keberadaannya, terkadang banyak yang melintas di depan kampus, kadang juga hanya satu atau dua yang melintas, dan itu hanya diwaktu-waktu tertentu saja mereka beroperasi. Dengan semakin berkembangnya zaman, beriringan juga dengan berkembangnya teknologi, hingga berimbas pada angkutan umum yang berbasis online. Lebih mudah dan praktis, cepat dan nyaman, dibandingkan angkutan umum konvensional. Itulah sebabnya kenapa angkutan umum sekarang udah jarang banget.
------
balik lagi ke obrolan gua sama Bulan.
"Emang gapapa kalo aku pulang bareng kakak?"
Whattt? gak salah denger nih gua? Bulan nanya hal itu ke gua?
"Eng..gak si sebenernya. tapi..."
"Tapi kenapa kak?"
"Tapi..." Sumpah, gua gugup banget saat itu, kaget juga.
"Tapi apa kak?"
Disaat Bulan nunggu jawaban dari gua, yang padahal tinggal gua jawab aja,
Aku tuh kaget kamu ngomong gitu, Bulan!. Aku seneng mau pulang bareng kamuuuuuu:)
Dan disaat gua masih mencoba untuk ngelawan rasa gugup gua dan coba jawab pertanyaan Bulan, yang sebenernya belum tahu juga mau jawab apa. Disaat itu, tiba tiba...
"(Tin tin tin) Ayo neng, Angkot angkot neng, ayo neng. Langsung naek langsung jalan neng."
Datanglah sebuah angkot perusak momentum indah sore itu.
"Eh kak, angkot aku udah dateng. Aku duluan ya. Bye, kak Bintang:)." Bulan melempar senyuman andalannya itu.
"I..iyaa, Bulan, bye. Hati-hati ya." Berat hati aku menjawab kalimat berpisah untuk sore itu.
hilang sudah kesempatan untuk pulang bareng bersama Bulan. Padahal gua sendiri juga belum tahu gimana perasaan pasti ke Bulan. Tapi, kondisi tadi, ada hal yang buat gua gugup, kaget juga, saat Bulan coba menerima ajakan gua untuk pulang bareng, yang padahal sebelumnya hanya candaan semata, untuk mencairkan suasana aja. Gak ada niatan sedikitpun untuk ajak Bulan pulang bareng. Eh, ada sedikit deh. Hehehehe
------
sekian dulu, nanti gua lanjutin lagi, kalo ada waktu. dan mood hehehe.
tapi sebenernya pengen banget konsisten nulis gini.
oke sekian deh ya. see you on the next part of Bulan dan Bintang Story.
Komentar
Posting Komentar