2024.
Sebelumnya,
Mohon maaf jika tulisan ini tidak dalam penulisan yang bagus, baik dan sesuai aturan. Sekiranya, hanya akan ada tulisan yang tidak tertata seperti seharusnya. Mohon maaf jika arah tulisannya entah kemana, entah apa maksud dan tujuannya yang bisa kalian tafsirkan, kalian artikan, ataupun kalian pahami. Silahkan jika berkenan untuk membaca lengkapnya. Terima kasih juga atas waktu dan atensinya.
Tulisan ini hanya atas dasar ingin meluapkan, sebagai bentuk mengutarakan apa yang ada dibenak kepala. Sebagai rasa yang ingin dilepas tapi entah mau memulai atau meluapkan seperti apa, bagaimana, dan darimana. begitulah adanya cerita ini dibuat.
Tulisan ini adalah tentang,
2024.
Tahun yang nyatanya, diawal menjadi tahun yang diduga namun tak menduga pada akhirnya.
Hah? bagaimana maksudnya?
Biarku kilas balik sejenak, supaya bisa dipahami konteks pernyataan sebelumnya. Jadi begini, selama lebih kurang 12 tahun saya tinggal berdua bersama ibu saya. Ya, benar, selama itu kami tinggal hanya berdua. Tepatnya tanggal 29 September 2011 sekitar pukul 22.00 WIB di Jakarta Timur, ayah saya pergi untuk selamanya. Kala itu, saya masih berada ditingkat sekolah menengah pertama. Tidak terlalu muda untuk bisa merasakan kehilangan dan mengikhlaskan kepergian sosok ayah untuk selamanya, tapi juga tidak cukup dewasa untuk bisa benar-benar menerima kenyataan bahwasanya saya tak lagi punya sosok ayah untuk seterusnya.
Singkat cerita, saya menjalani kehidupan berdua bersama ibu saya setelah kepergian ayah hingga tahun 2023. Dan setelahnya dimana momen penting yang akhirnya harus saya ambil dan jalani, yaitu menikah dan tidak tinggal bersama lagi dengan ibu.
loh kok gak tinggal sama ibu? kenapa? kenapa lebih memilih tinggal dengan istri/keluarga mertua dibanding dengan tinggal bersama ibu? atau, kenapa tidak diajak saja ibu tinggal bersama setelah menikah?
Kalau saya jelaskan detailnya terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan sangat panjang dirasa tulisan ini. Intinya, itu sudah menjadi keputusan yang sangat amat dipikirkan dan dirasa terbaik untuk kita semua.
Intinya lagi, itu semua perjalanan yang membuat kehidupan saya dan ibu menjadi cukup berbeda dan berubah, dalam banyak hal. Dan itu cukup menguras banyak energi. Dan dari kehilangan sosok ayah, saya selalu merasa khawatir akan kehilangan sosok ibu. Sosok yang menemani saya didunia ini, membesarkan, dan mendidik saya seorang diri sehingga sebagaimana saya sekarang ini. Itu adalah perjuangan dari ibu saya.
Sungguh, rasa takut kehilangan itu terus ada dan terjaga hingga akhirnya saya memutuskan menikah.
Singkat cerita,
Waktu itu datang. Tahun dimana rasa kehilangan itu terasa menghantui. Dan seperti apa yang saya katakan sebelumnya, bertahun-tahun rasa takut kehilangan itu terus terasa dan yang saya lakukan adalah mencoba dan terus mencoba belajar mengikhlaskan pada akhirnya.
Dan benar, tahun 2024 adalah tahun yang diduga akan kehilangan tetapi tak terduga bahwa rasa kehilangan itu begitu mendalam, dengan cara yang tak terduga juga harus kehilangan sosok ibu yang sangat saya cintai.
Sekiranya, begitulah cerita ini dapat saya sampaikan. Lagi, mohon maaf jika tulisan ini terasa tidak cukup baik untuk teman-teman baca, teman-teman nikmati, atau bahkan teman-teman sekadar melihatnya.
Terima kasih untuk teman-teman semua sudah meluangkan waktunya membaca hingga akhir cerita.
Terima kasih ayah, terima kasih ibu, sampai bertemu di tempat terbaik yang Allah siapkan untuk umatnya. Aamiin.
Terima kasih, 2024.
Komentar
Posting Komentar