Bertemu Bulan - Bulan dan Bintang #1

“Kita mulai kisah ini. Gua mau menceritakan tentang kisah seorang laki-laki yang tidak cukup pemberani, labil, dan terkadang malas untuk memulai suatu hal. Nampak diawal cerita ini orang tersebut adalah orang yang tidak cukup digemari banyak orang, khususnya wanita-wanita yang menginginkan sosok pria yang pemberani, kuat, dan bisa mengayomi wanita itu dengan baik. Langsung kita mulai kisah seseorang ini, gua akan berusaha sebaik mungkin untuk menulis cerita ini dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap ada nilai seni dari karya menulis itu sendiri. Ok langsung aja kita mulai buat ceritanya. Jadi begini ceritanya,

Gua adalah pria yang penakut, penakut dalam artian gua takut akan hal-hal mistis, gua juga takut dengan hal-hal yang mengancam diri gua. Jadi kalo misalkan....”

------

Disaat gua sedang asik nulis cerita yang gua bikin itu, gua kaget mendengar suara lembut wanita yang terasa dekat banget dari gua. Gua berhenti nulis dan gua mencoba mengalihkan pandangan gua dari laptop ke sekitar gua, dan benar ternyata ada wanita disamping gua yang dari tadi mencoba menyapa gua tapi gua terlalu asik nulis jadinya gak engeh sama keberadaanya.
“Hai, boleh duduk disini? Di bangku lain udah penuh soalnya, Cuma disini aja yang masih kosong.” Wanita itu memulai pembicaraan
“Oh iya, silahkan.” Jawab gua
“Kamu mahasiswa jurusan sini? Aku mahasiswa baru disini.” tanya si wanita suara lembut itu sambil melemparkan senyuman ke gua
 “I..Iya gua mahasiswa sini. Oh mahasiswa baru, gua dua tingkat di atas lu berarti”
“Oh maafkan ya kak, aku ganggu waktu kakak. Salam kenal juga ya kak.” Sambil dia menyedorkan tangannya untuk berkenalan.
“Namaku Bulan. Bulan Permata.”
“Kenalin, nama gua Bintang. Bintang Pratama.”
“Wah nama kita belakangnya hampir sama ya kak. Nama depannya juga berkaitan gitu.” Kemudian dia tertawa kecil, dan itu terlihat sangat manis buat gua.
Sebelum berlanjut, gua mau memperkenalkan diri gua dulu, biar lebih akrab. Nama gua Bintang, Bintang Pratama. Cowok yang cenderung pendiam, tidak terlalu tampan, tidak terlalu banyak tingkah, gak kebanyakan seperti cowok-cowok biasanya, yang gaul, asik untuk diajak ngumpul, di ajak jalan, dan gua lebih sering menyendiri. gua juga suka dengan dunia sastra, tapi bukan itu aja, gua juga jago dibidang olahraga khususnya futsal, tapi jarang terekspos karena gua juga jarang bergaul dengan orang banyak. Waktu gua lebih sering gua habiskan untuk nulis, buat sajak, atau tidur dirumah sambil mendengarkan musik-musik indie yang gua suka dengerin buat nemenin hari-hari gua yang sepi, tapi gua suka si sebenarnya dengan kesendirian ini, lebih tenang, lebih damai.
Nah balik lagi dengan si wanita suara lembut itu, yang namanya gua tahu yaitu Bulan, Bulan Permata. Sebagai gambaran tentang si Bulan ini, yang gua lihat dia orangnya cantik, tidak begitu tinggi, tapi cukup enak jika kita pandang lama karena badan dan wajahnya memang bagus dan manis, dan ga bosan untuk menatapnya.

------

“Kak Bintang, aku pamit duluan ya. Aku ada kelas lagi soalnya, dan udah jam nya juga. Makasih ya kak untuk ngebolehin aku numpang duduk disini.”
“Oh iya sama-sama, Bulan. Gapapa lagi, santai aja, kan ini juga kantin bersama, jadi semua orang berhak untuk duduk disini.”
“Yaudah kak aku pamit ya. Bye, kak Bintang.”
“Iya, bye juga Bulan.”
Disaat Bulan mau melangkah jauh dari tempat duduk gua, gua merasa harus melakukan suatu hal ini, yang merupakan kesempatan emas untuk gua, entah kedepannya bagaimana, tapi gua harus melakukan ini. Akhirnya gua memberani kan diri untuk..
“Bulan! Sebentar, hmm... Gua boleh minta nomor lu gak?”
“Hmm, boleh kak. Boleh minta hape kakak, buat nulis nomor aku.”
“Oh iya, sebentar. Ini hapenya.”
Bulan sendiri yang nulis dan dia juga yang menyimpan nomornya itu di hape gua. Setelah itu dia langsung berlalu meninggalkan gua yang bingung dengan perasaan gua sendiri setelah dapat nomornya Bulan. Gua bingung antara senang tapi juga heran, kenapa gua bisa seberani itu untuk minta nomor telepon seorang wanita yang baru gua kenal beberapa waktu lalu, dan gua berkenalan dan langsung minta nomor teleponnya. Akhirnya setelah kejadian kenalan dan minta nomor telepon itu, gua pergi dari kantin untuk kembali masuk kelas untuk kuliah selanjutnya, dengan pikiran yang gak karuan dan perasaan yang bingung tapi senang juga.


 ------





Segitu dulu kali ya cerpen ini. Nanti bakal gua lanjut lagi kok, kalo sempet, dan kalo rasa malas untuk lanjutin cerpen ini hilang. Hehehe
Selamat menikmati ceritanya (Padahal ceritanya masih sedikit).
Bye:))

Komentar

Postingan Populer